Jurnal Refleksi Dwi Mingguan
Jurnal Refleksi Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Pada kesempatan ini saya Wawan Calon Guru Penggerak angkatan 9 dari SMK Pariwisata Telkom Bandung, disini saya akan menuliskan tentang jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Jurnal refleksi Dwi Mingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Dan ini sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya.
Kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya tentang kegiatan pembelajaran Daring yang sudah dilakukan pada Modul 1.1 Tentang Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fact; 2. Feeling; 3. Findings; dan 4. Future), yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan).
1. Facts (Peristiwa)
Pada tanggal 16 Agustus 2023 CGP Angkatan 9 resmi dibuka oleh Kemendikbudristek yaitu Bapak Nadiem Makarim,B.A.,M.B.A. dan Dirjen GTK melalui zoom yang diikuti CGP Angkatan 9 se Indonesia. Pembukaan juga diisi oleh Kepala Balai Guru Penggerak. Beliau menyampaikan bahwa selama mengikuti diklat guru penggerak diharap para CGP jangan sampai berhenti di tengah jalan karena Bapak/Ibu adalah guru-guru pilihan. Jangan dijadikan alasan karena kendala-kendala yang dapat menghambat proses belajar. Setelah kegiatan zoom meeting seluruh CGP Angkatan 9 wajib mengikuti kegiatan-kegiatan serta pelatihan-pelatihan yang ada di LMS, kegiatan pertama adalah kegiatan pree test yang dilaksanakan pada tanggal 16 -18 Agustus 2023.
Pada tanggal 27 Agustus 2023 diadakan Lokakarya Orientasi secara Daring/Online yang dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 15.30 WIB. Dengan bimbingan Ibu Riestha Sugianti, Ibu Rini Apriyani, Ibu Solehah selaku Pengajar Praktik, Lokakarya Orientasi sunguh sangat menyenangkan dan merupakan kesempatan pertama bagi saya menimba ilmu di pelatihan guru penggerak menuju tahap-tahap pelatihan berikutnya. Semoga saya dapat dapat menyelesaikan program CGP-9 ini dengan lancar. Ketiga pengajar praktik sangat menyenangkan dalam memberikan pemahaman materi, bahkan memberikan dorongan semangat kepada CGP-9 agar senantiasa belajar dengan penuh semangat dan bahagia.
Mulai dari mempelajari modul 1.1. tentang Mulai Dari Diri dan Eksplorasi yang dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2023, Konsep di forum diskusi yang dipimpin dan dipandu oleh fasilitator, dari kegiatan Mulai dari diri dan Eksplorasi konsep ini kami mengetahui dan mulai memahami tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran, kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan sesama teman Calon Guru Penggerak.
Setelah kita Mulai Dari Diri dan Eksplorasi yang dilaksanakan secara diskusi selanjutnya kita berdiskusi dengan fasilitator pada modul 1.1 a.4.1 eksplorasi konsep yang dilaksanakan secara virtual melalui google meet. pada tanggal 22 Agustus 2023.
Dua pekan sudah mulai 16 – 31 Agustus 2023 saya menambah wawasan, mengasah kemampuan melalui LMS tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional -Ki Hadjar Dewantara bersama fasilitator Ibu Nurfarida Kusumastuti. Adapun serangkaian kegiatan yang dipelajari dalam LMS, adalah mulai dari diri (21 Agustus 2023), eksplorasi konsep (22 Agustus 2023), Ruang kolaborasi (23 dan 24 Agustus 2023), demonstrasi kontekstual (25 dan 28 Agustus 2023), elaborasi pemahaman (30 Agustus 2023) yang disampaikan oleh instruktur Ibu Iswatun Khoiriyah yang diadakan melalui Google Meet tentang pemahaman secara mendalam konsep dasar pemikiran Filosofis Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan pendidikan abad 21, koneksi antar materi (4 September 2023) (kesimpulan dan refleksi), serta aksi nyata yang telah saya lakukan.
2. Feeling (Perasaan)
Dua minggu sudah berlalu dalam mengikuti beberapa kegiatan Pendidikan Guru Penggerak, yang saya rasakan di awal mengikuti kegiatan pendidikan ini adalah perasaan Bangga karena bisa mengikuti kegiatan Calon Guru Penggerak dan diberi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kompetensi diri dan diberi kesempatan untuk ikut berperan dalam perubahan pendidikan.selain itu juga ada rasa ragu tidak bisamengikuti kegiatan dengan baik karena benturan kegiatan sekolah, terkadang muncul perasaan merasa minder karena melihat kecakapan teman-teman calon guru penggerak yang hampir mayoritas hebat-hebat. Namun saya punya semangat untuk belajar dan berkembang sehingga saya percaya diri dengan bekal keinginan yang kuat saya mampu untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini dengan baik.
Dalam kegiatan pendidikan ini banyak ilmu yang saya peroleh selama menjalani dua pekan mengikuti pendidikan guru penggerak ini, mulai dari bagaimana menjadi pendidik yang seharusnya, bagaimana pendidik harus menghamba pada anak, mendesain strategi dan metode pembelajaran dalam mewujudkan pemikiran KHD-“, mendidik anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, dengan tetap menjaga sosio kultural budaya yang ada. Serangkaian kegiatan yang ada di dalam platform LMS menyadarkan saya bahwa apa yang saya miliki saat ini tentang pendidikan dan pengajaran jauh dari konsep dasar pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara. Kegiatan mempelajari modul secara mandiri melalui LMS merupakan upaya memandirikan diri dalam belajar. Dengan mempelajari modul ini saya berharap bisa menjadi pemimpin pendidikan dan penggerak menuju tansformasi pendidikan yang sesuai dengan zaman dan berlandaskan jati diri bangsa. Menjadi seorang pendidik yang tergerak, bergerak dan menggerakkan.
Namun saat ini mulai perlahan saya berupaya menerapkan konsep dasar pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam pembelajaran di ruang kelas. Saya merasa berdosa jika saya tidak tulus mencintai anak didik dalam proses menuntun. Sesekali jika ada anak yang bermain-main dikelas tidak serta merta saya memarahi. Namun saya mengarahkannya untuk hal-hal yang positif, menyenangkan dan menunjang pembelajaran. Adapun ide yang muncul dalam benak saya adalah adalah menerapkan pembelajaran dengan media Interaktif (Aplikasi Classpoint, mentimeter, LMS ) di barengi dengan kegiatan Praktek di Lab Komputer agar suasana pembelajaran tidak membosankan dan menyenangkan.
3. Findings (Pembelajaran)
Dari pembelajaran Modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara ini saya akan berusaha untuk memahami dan mengimplementasikan secara maksimal pemikiran pemikiran KHD sehingga saya bisa menerapkan secara sadar akan pentingnya peran seorang pendidk saya juga akan berupaya untuk menjadi pendidik yang berkualitas dengan selalu terbuka terhadap perubahan dan mengikuti perkembangan teknologi dan mengadaptasikannya sesuai dengan sosio kultural budaya. Saya akan berusaha menjadi guru yang dirindukan oleh Siswa -Siswa dengan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada Siswa , saya akan belajar untuk menjadi pemimpin pembelajaran minimal untuk sekolah saya /teman sejawat saya akan mengeksplor kemampuan saya yang selama ini belum maksimal saya kembangkan dan terus berinovasi sehingga pembelajaran saya bisa berjalan dengan baik dan sesuai perkembangan teknologi. Yang tujuannya semata – mata untuk pendidikan yang memerdekakan anak dalam mengembangkan kompetensinya sesuai bakat dan minat yang dimiliki.
an sangat menyadari bahwa pendidikan dan pengajaran harus berjalan selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta tanah air dapat senantiasa terpelihara. Ki Hadjar Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan; a) Kodrat Alam, b) Kemerdekaan, c) Kemanusiaan, d) Kebudayaan, dan e) Kebangsaan.. Seperti Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD-2009) tentang pendidikan dan pengajaran (“pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya” ini artinya pendidikan merupakan suatu usaha yang berfokus pada proses atau usaha pembentukan mental dan karakter suatu bangsa sesuai dengan lingkungannya.
Artinya setiap anak sudah memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Selain itu, berdasarkan filosofis pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, kita harus memandang anak sebagai individu yang unik. Setiap anak punya ciri belajarnya masing-masing, sehingga kita sebagai pendidik harus melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi.
Wajib bagi pendidik melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan, profil, gaya belajar, metode belajar sesuai dengan kondisi anak, sehingga kita sebagai pendidk dapat merancang pembelajaran yang tepat serta sesuai dengan yang dibutuhkan anak yang lebih dikenal dengan istilah ‘berhamba pada anak’. Disisi lain, proses pendidikan dan pembelajaran harus menerapkan budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia dengan cara mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan pencapaian Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.
Future (Penerapan)
Pembelajaran Modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara ini, memotivasi saya untuk berupaya melakukan hal-hal terbaik dalamproses pendidikan dan pengajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai seiring dan selaras dengan konsep dasar pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara. Seperti : Mengubah metode dan model pembelajaran di kelas yang dulu saya selalu memberi batasan-batasan dalam tugas, kini siswa bisa menyelesaikan tugas sesuai kreatifitasnya akan tetapi tetap sesuai dengan materi. Mengubah pandangan bahwa anak bukan seperti kertas putih kosong melainkan tabula rasa ( samar-samar sudah ada goresan dan tugas pendidik mempertebal lakunya) Mengubah cara pandang terhadap anak yang semula berorientasi pada nilai menjadi berorientasi pada proses. Merancang dan melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui profil anak. Merancang pembelajaran sesuai dengan hasil asessmen diagnostik awal yang telah dilakukan, Membuat kesepakatan di awal pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran yang berinovasi dengan metode berkolaborasi, mandiri dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga pendidikan berpusat pada peserta didik.
Refleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak
Saat mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya telah belajar banyak hal Bersama rekan CGP, Pengajar Praktik (Ibu Riestha Sugianti), Fasilitator (Ir. Nurfarida Kusumastuti, S.Pt., M.P., IPM) dan instruktur (Bapak Yosua Adhipta Nala Yudhistira), mulai dari membuat trapezium usia, berkolaborasi dengan sesama CGP diruang kolaborasi, membuat demonstrasi kontekstual, elaborasi Bersama instruktur tanggal 13 september 2023, sampai dengan membuat koneksi antar materi dari modul 1.1 sampai modul 1.2
Pembelajaran dilakukan secara asynchronous menggunakan LMS dan secara synchronous melalui google meet.
tanggal 13 september 2023 saya mendapat jadwal pendampingan individu ke -1 bersama pengajar praktik yaitu Ibu Riestha Sugianti yang bertempat di SMK Pariwisata Telkom Bandung
Examination
Setelah mempelajari rangkaian materi dalam modil 1.2, saya menganggap sudah sesuai dengan tujuan yang telah dibuat yaitu memahami nilai dan peran guru penggerak.
Articulation of Learning
Saya banyak belajar bahwa menjadi guru penggerak harus memiliki 5 nilai yaitu berpihak pada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif, dan inovatif. Saya juga belajar bahwa peran kita sebagai guru tidak hanya mengajar saja, namun harus mampu menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan menggerakan komunitas praktisi. Berdasarkan hal tersebut saya akan mulai menerapkan nilai dan peran guru penggerak dalam kehidupan.
Refleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak
Saat mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya telah belajar banyak hal Bersama rekan CGP, Pengajar Praktik (Ibu Riestha Sugianti), Fasilitator (Ir. Nurfarida Kusumastuti, S.Pt., M.P., IPM) dan instruktur (Bapak Yosua Adhipta Nala Yudhistira), mulai dari membuat trapezium usia, berkolaborasi dengan sesama CGP diruang kolaborasi, membuat demonstrasi kontekstual, elaborasi Bersama instruktur tanggal 13 september 2023, sampai dengan membuat koneksi antar materi dari modul 1.1 sampai modul 1.2
Pembelajaran dilakukan secara asynchronous menggunakan LMS dan secara synchronous melalui google meet.
tanggal 13 september 2023 saya mendapat jadwal pendampingan individu ke -1 bersama pengajar praktik yaitu Ibu Riestha Sugianti yang bertempat di SMK Pariwisata Telkom Bandung
Examination
Setelah mempelajari rangkaian materi dalam modil 1.2, saya menganggap sudah sesuai dengan tujuan yang telah dibuat yaitu memahami nilai dan peran guru penggerak.
Articulation of Learning
Saya banyak belajar bahwa menjadi guru penggerak harus memiliki 5 nilai yaitu berpihak pada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif, dan inovatif. Saya juga belajar bahwa peran kita sebagai guru tidak hanya mengajar saja, namun harus mampu menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan menggerakan komunitas praktisi. Berdasarkan hal tersebut saya akan mulai menerapkan nilai dan peran guru penggerak dalam kehidupan.
Refleksi 1.4 Budaya Positif
Semangat pagi…! Pagi.. pagi…pagiii… saya Wawan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMK Pariwisata Telkom Bandung.
Pada jurnal refleksi dwimingguan sesuai dengan pengalaman dan apa yang sudah saya pelajari selama proses pendidikan guru penggerak di materi modul 1.4 yaitu tentang Budaya Positif. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan).
Berikut jurnal refleksi dwimingguan modul 1.4 Budaya Positif.
1. Peristiwa
Setelah mengeksplorasi modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, dan modul 1.3 Visi Guru Penggerak, kami, para Calon Guru Penggerak Angkatan 9, memasuki modul 1.4 yang membahas Budaya Positif. Kegiatan ini dilakukan secara daring melalui LMS Pendidikan Guru Penggerak. Kegiatan ini mengikuti alur MERDEKA, yaitu: a. Mulai dari Diri Dalam tahap ini, saya diminta untuk membuka tautan “Mulai dari Diri” di modul 1.4. Tugas pertama adalah menjawab empat pertanyaan: 1) Mengapa menciptakan suasana positif di lingkungan penting? 2) Bagaimana saya menciptakan suasana positif di lingkungan saya? 3) Apa hubungan antara menciptakan suasana positif dengan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid? 4) Bagaimana penerapan disiplin saat ini di sekolah saya, apakah sudah efektif? Juga, pertanyaan tambahan tentang refleksi diri, harapan pribadi, harapan untuk siswa, dan ekspektasi. b. Eksplorasi Konsep Pada tahap ini, saya belajar enam materi esensial dalam modul 1.4, yakni: 1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal; 2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi; 3) Keyakinan Kelas; 4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas; 5) Lima Posisi Kontrol; dan 6) Segitiga Restitusi. c. Ruang Kolaborasi Ruang Kolaborasi terbagi menjadi beberapa kelompok diskusi dan presentasi hasil diskusi kelompok. Proses ini dilakukan melalui GMeet dengan bimbingan Ibu Nurfarida Kusumastuti selaku fasilitator. d. Demonstrasi Kontekstual Saya diberi tugas membuat dua skenario penerapan segitiga restitusi dan merekam video penerapannya bersama siswa. e. Elaborasi Pemahaman Saya memperdalam pemahaman saya tentang modul 1.4 melalui pertanyaan yang mendalam kepada instruktur, yang dipandu oleh Ibu Febriandrini pada tanggal 13 Oktober 2023. f. Koneksi Antar Materi Tugas ini melibatkan pengaitan antar materi dari modul-modul sebelumnya dan menjelaskan pemahaman serta sorotan pribadi tentang konsep-konsep yang telah dipelajari. g. Aksi Nyata Aksi nyata melibatkan penerapan langsung dari materi yang dipelajari, di sini saya akan melaksanakan Sosialisasi atau diseminasi 17 Oktober 2023 Penerapan Budaya Positif di Sekolah.
2. Perasaan
Selama menjalani Modul 1.4 Budaya Positif, perasaan saya menjadi beragam. Salah satu pemahaman motivasi ekstrinsik saya peroleh adalah bahwa penghargaan bisa memiliki dampak yang sama dengan hukuman istilahnya adalah dihukum oleh penghargaan. Ini mengubah pandangan saya tentang pemberian penghargaan, karena bisa memotong kreativitas dan mengurangi motivasi intrinsik. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk memberikan keteladanan positif yang lebih baik dalam menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah.
3. Pembelajaran
Pada tahap ini, saya menyadari bahwa pembelajaran adalah proses yang tidak berhenti. Saya akan terus belajar dan memberikan keteladanan dalam upaya menanamkan budaya positif. Budaya positif datang dari pikiran positif, dan tindakan ini akan membentuk karakter positif.
4. Penerapan
Setelah menggali pengetahuan dari modul ini, saya berkomitmen untuk terus meningkatkan diri dan menjadi contoh bagi siswa – siswi dalam menumbuhkan budaya positif. Saya akan lebih mendekati siswa/i, memahami kebutuhan mereka, dan menjalankan peran dalam membentuk karakter positif di lingkungan sekolah. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan pelajar yang memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam hal ini saya telah melakukan proses penerapan keyakinan kelas , segititiga restitusi dan akan melakukan desiminasi disekolah
Refleksi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi
Semangat pagi…! Pagi.. pagi…pagiii… saya Wawan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMK Pariwisata Telkom Bandung.
Dalam kesempatan ini saya ingin menuliskan jurnal refleksi dwimingguan saya di modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Dalam refleksi dwimingguan ini, saya menggunakan 4F yaitu Facts, Feelings, Findings, Future, dan Fact.
Fact (Fakta)
Pembelajaran modul 2.1 ini dimulai pada tanggal 20 Oktober 2023 dengan kegiatan pretest . Pada awal modul 2.1 di bagian mulai dari diri saya membuat refleksi diri kondisi kelas yang saya ajar saat ini, saya diminta menjelaskan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran di kelas serta tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut.
Pada tahap eksplorasi konsep, saya membuat diagram frayer mengenai apa yang saya pahami tentang pembelajaran berdiferensiasi.
Dalam ruang kolaborasi yang dipandu oleh Ibu Nurfarida Kusumastuti fasilitator, Ibu Riestha Sugianti selaku PP, saya bersama 3 orang rekan CGP yakni Bapak Dwi Atmoko, Bapak Taufik dan Bu Rosalyn menganalisis kasus SMK dimana kami dapat menyimpulkan bahwa tokoh Pak Ceta sebagai guru SMK melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi walaupun kondisi pembelajaran jarak jauh.
Dalam Demonstrasi kontekstual, saya membuat RPP/Modul Ajar pembelajaran berdiferensiasi. Mata Pelajaran Informatika dengan Capaian pembelajaran TIK materi Pengelolaan Presentasi
Dalam sesi elaborasi, saya sangat bersyukur karena dipertemukan oleh instruktur Bapak Tata Tarma karena Beliau sangat jelas menggambarkan bagaimana menggambarkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
Dalam menyusun koneksi antar materi, saya menemukan semua materi yang telah dipelajari dari modul 1.1 sampai 2.1 sangat berkaitan dengan keberpihakan proses pendidikan kepada murid.
Aksi nyata yang sudah saya lakukan adalah pembelajaran berdiferensiasi kelas X dalam pelajaran Informatika
Feelings (Perasaan)
Saya bersyukur mendapat ilmu baru yang sangat luar biasa berpengaruh terhadap eksistensi saya menjalani profesi sebagai guru. Modul 2.1 memang memberikan saya banyak ilmu mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Saya harap dengan mempelajari ini, saya konsisten menjalankan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.
Dalam mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi, maka guru harus memiliki pertimbangan yang masuk akal, seperti tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif serta penilaian berkelanjutan.
Ada 3 aspek yang mengkategorikan kebutuhan murid, yakni kesiapan belajar, minat dan profil belajar.
Kesiapan belajar adalah adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.
Minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.
Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar.
Strategi diferensiasi ada 3, yakni diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.
Diferensiasi konten saya mengacu pada pemetaan kebutuhan murid. Guru menyajikan beragam media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid
Diferensiasi proses mengacu pada bagaimana jalannya sebuah pembelajaran berdasarkan gaya belajar.
Diferensiasi produk mengacu pada produk yang dihasilkan sebagai unjuk kerja sesuai dengan kemampuan murid.
Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul ini, saya akan melakukan tes diagnostik baik dengan kuisioner, membaca data yang sudah ada atau interaktif langsung menggunakan aplikasi classpoint dalam memetakan kebutuhan murid saya di kelas. Saya juga akan merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Saya akan sering berkolaborasi dengan rekan sejawat yang sudah berpengalaman dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Karena saya pengajar SMK, saya akan lebih sering menggandeng guru produktif untuk mencocokkan materi yang diperlukan sehingga kerjasama antar guru dapat terlaksana dengan baik. Selanjutnya saya ingin mengimbaskan praktik baik saya agar keberpihakan pada murid terlaksana di sekolah saya.
Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2: Pembelajaran Sosial dan Emosional
Semangat pagi…! Pagi.. pagi…pagiii… saya Wawan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMK Pariwisata Telkom Bandung.
Berikut jurnal refleksi dwi mingguan penggunaan model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).
A. Reporting
Mulai tanggal 3 November Modul 2.2 yang berkenaan dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional dimulai untuk dipelajari melalui Learning Managemen System (LMS) mulai dari kegiatan Pendahuluan dimana isinya terkait tahapan yang akan ditempuh selama mempelajari modul 2.2 ini yang memalui alur MERDEKA yaitu Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, , Ruang kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Konsep, Koneksi antar materi dan Aksi nyata.
Mulai diri (3 November 2023)
Berkenaan dengan : Merefleksikan pengalaman diri dalam menghadapi sebuah krisis pribadi dan pengaruh krisis tersebut bagi dirinya sebagai pendidik dan Merefleksikan pengalaman seorang murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan, dan kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain dan pengaruhnya terhadap pembelajarannya.
Eksplorasi Konsep (6 November 2023)
Menganalisis konsep 5 KSE (kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab) yang berbasis kesadaran penuh dalam 5 contoh kasus.
Ruang Kolaborasi (8 November 2023)
Mendiskusikan dan menyusun inisiatif program penguatan kompetensi sosial dan emosional bagi murid dan rekan sejawat di sekolah di fase ini kami mengambil kasus untuk jenjang SMK.
Demonstrasi Kontekstual (13 November 2023)
Mendemonstrasikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran Kompetensi Sosial dan Emosional dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Elaborasi Pemahaman (15 November 2023)
Setelah memahami konsep kunci dan implementasi pembelajaran sosial emosional berbasis kesadaran penuh melalui pembelajaran mandiri dan gotong royong, CGP akan mengelaborasikan pemahaman tersebut lebih lanjut melalui tanya-jawab dan diskusi.
Koneksi Antar materi
CGP mengambil makna dari pengalaman yang berkaitan dengan pembelajaran 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional, membuat kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional dan membuat koneksi materi pembelajaran sosial dan emosional dengan modul-modul sebelumnya.
Aksi Nyata (16 November 2023)
Membagikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran sosial emosional melalui 4 indikator yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar guru dan serta kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional rekan sejawat di sekolah kepada rekan sejawat atau komunitas, dan merefleksikannya.
B. Responding
Pada kegiatan forum komunikasi dengan fasilitaor sebagai bahan persiapan diskusi ruang eksplorasi konsep saya mengajukan pertanyaan : Bagaimana kita dapat mengintegrasikan pembelajaran tentang toleransi, keragaman, dan inklusi dalam lingkungan pembelajaran?
Pada kegiatan aktivitas eksplorasi konsep kami berdiskusi secara sinkronus terkait materi Pembelajaran Sosial dan Emosional terutama Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mencerminkan PSE. Selanjutnya peserta mendiskusikannya di Brek of Room (BOR) masing-masing dimana hasilnya dipresentasikan pada Ruang Kolaborasi pada tanggal 10 November 2023 mulai pukul 13 : 30 – 15:45 dan saya satu kelompok bersama Ibu Rosalyn, Bapak Taufik dan Pak Dwi Atmoko. Pada kegiatan tersebut kami mempresentasikan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) jenjang SMK.
C. Relating
Pembelajaran sosial emosional (PSE) adalah proses belajar yang dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan untuk memahami dan mengelola emosi mereka sendiri, membangun hubungan positif dengan orang lain, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab. PSE dapat membantu siswa mengurangi stres dan tekanan dalam belajar, dan mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Guru dapat mengimplementasikan PSE dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih keterampilan sosial dan emosional. Dengan mengimplementasikan PSE dalam KBM, guru dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses di sekolah dan dalam kehidupan.
Berikut adalah beberapa tips untuk mengimplementasikan PSE dalam KBM:
- Ciptakan lingkungan belajar yang positif dan suportif.
- Ajak siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
- Beri kesempatan kepada siswa untuk berlatih keterampilan sosial dan emosional.
- Beri pujian dan penghargaan kepada siswa atas pencapaian mereka.
- Lakukan evaluasi secara berkala untuk melihat kemajuan siswa.
Dengan mengimplementasikan PSE dalam KBM, guru dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses di sekolah dan dalam kehidupan.
D. Reasoning
Setelah dianalisa ternyata selama ini Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) sebetulnya sudah dilaksanakan baik secara pribadi juga oleh rekan guru lainnya hanya saja keilmuannya belum tersampaikan untuk itu diperlukan adanya sosialisasi secara berkelanjutan terkait pembelajaran diferensial dan PSE ini, selain sosialisai diperlukan juga dukungan penuh dari pihak sekolah terutama stake holder dalam mewujudkan PSE dan pembelajaran berdiferensiasi sehingga tujuan pembelajaran yang ingin dicapai peserta didik dapat tercapai dengan optimal, yang terjadi selama ini kadang hasil pengamatan peserta didik terkait type dan minat belajar, serta profil belajar siswa merupakan hasil pengamatan masing-masing guru bukan hasil penelitian secara umum dari pihak sekolah dan berdampak pada subjek yang sama hasilnya berbeda-beda, untuk itu diperlukan adanya pemyamaan format dan hasil yang diperoleh.
E. Reconstructing
Pembelajaran diferensial dan sosial emosional sangat penting bagi warga sekolah, terutama peserta didik. Pembelajaran diferensial dapat membantu peserta didik belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing, sedangkan pembelajaran sosial emosional dapat membantu peserta didik mengelola emosi mereka sendiri dan membangun hubungan positif dengan orang lain.
Untuk mewujudkan pembelajaran diferensial dan sosial emosional, diperlukan dukungan moril dan materil dari pihak sekolah. Dukungan moril dapat berupa motivasi dan penghargaan kepada guru dan tenaga kependidikan yang telah melaksanakan pembelajaran diferensial dan sosial emosional. Dukungan materil dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelajaran diferensial dan sosial emosional.
Selain dukungan moril dan materil, diperlukan juga sosialisasi dan penyamaan data terkait pembelajaran diferensial dan sosial emosional. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada guru dan tenaga kependidikan tentang pembelajaran diferensial dan sosial emosional. Penyamaan data dapat dilakukan dengan mengumpulkan data tentang peserta didik, seperti minat belajar, gaya belajar, dan profil belajar.
Dengan adanya dukungan moril dan materil, sosialisasi, dan penyamaan data, maka pembelajaran diferensial dan sosial emosional dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan efisien. Hal ini akan berdampak pada pencapaian tujuan pembelajaran siswa yang lebih maksimal.
Berikut adalah beberapa manfaat pembelajaran diferensial dan sosial emosional:
- Meningkatkan motivasi belajar siswa
- Mengurangi stres siswa
- Meningkatkan hasil belajar siswa
- Meningkatkan hubungan sosial siswa
- Meningkatkan karakter siswa
Dengan menerapkan pembelajaran diferensial dan sosial emosional, maka sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan kondusif bagi siswa. Hal ini akan membantu siswa untuk belajar lebih efektif dan efisien, sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajarannya dengan lebih maksimal.
Refleksi Coaching dalam Supervisi Akademik
Semangat pagi…! Pagi.. pagi…pagiii… saya Wawan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMK Pariwisata Telkom Bandung.
Pada jurnal refleksi dwimingguan sesuai dengan pengalaman dan apa yang sudah saya pelajari selama proses pendidikan guru penggerak di materi Modul 2.3 mengenai Coaching dalam Supervisi Akademik. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan).
Facts (Peristiwa):
Modul 2.3 mengenai Coaching dalam Supervisi Akademik dimulai pada tanggal 17 November 2023. Modul ini diajarkan melalui eksplorasi konsep yang dibagi menjadi 4 Sub Pembelajaran, yaitu:
- Sub Pembelajaran 2.1: Konsep Coaching secara Umum dan dalam Konteks Pendidikan,
- Sub Pembelajaran 2.2: Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching,
- Sub Pembelajaran 2.3: Kompetensi Inti Coaching dan Alur Percakapan Coaching TIRTA,
- Sub Pembelajaran 2.4: Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching.
Coaching adalah proses kolaborasi yang berorientasi pada solusi, hasil, dan sistematis. Dalam coaching, seorang coach membantu coachee untuk meningkatkan kinerja kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi. Selain itu, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan dengan coachee untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional melalui proses yang merangsang pemikiran dan kreativitas. Melalui tugas di Sub Pembelajaran, saya mendapatkan pengalaman berharga dalam memahami coaching. Tugas Ruang Kolaborasi, yang terdiri dari latihan dan praktik coaching, memberikan pengalaman menarik dalam memainkan peran sebagai coach dan coachee.
Feelings (Perasaan):
Modul 2.3 telah memberikan pencerahan yang luar biasa bagi perkembangan diri saya dalam dunia coaching dan supervisi akademik. Saya tidak hanya merasa senang, lega, dan termotivasi, tetapi juga merasa sangat yakin dan siap untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip coaching ke dalam praktik pendidikan di sekolah kami. Saya melihat coaching sebagai alat yang kuat untuk membantu kami sebagai pendidik menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanan pendidikan. Selain itu, saya merasa semakin percaya diri dalam berinteraksi dengan rekan sejawat, menciptakan ruang kolaboratif yang memungkinkan kita saling mendukung, berbagi ide, dan tumbuh bersama sebagai komunitas pembelajaran yang kuat.
Saya juga merasa semakin termotivasi untuk mencari solusi kreatif dalam mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di sekolah. Modul ini mengajarkan saya bahwa coaching bukan hanya tentang memberikan jawaban, tetapi juga tentang memungkinkan coachee (yang sedang dibimbing) untuk menemukan solusi mereka sendiri melalui pemikiran dan refleksi yang mendalam. Ini adalah pendekatan yang sangat memperkaya dan mendalamkan pengalaman pembelajaran kami sebagai pendidik, dan saya sangat bersemangat untuk menjalankannya dalam praktik sehari-hari.
Findings (Pembelajaran):
Saya mendapatkan banyak pembelajaran berharga dari materi Modul 2.3 ini. Supervisi akademik bertujuan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid dan untuk pengembangan kompetensi diri pendidik di sekolah. Dalam hubungan antar guru, seorang coach dapat membantu coachee menemukan kekuatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan komunikasi coaching melibatkan dialog emansipatif dalam suasana kasih dan persaudaraan.
Paradigma berpikir coaching melibatkan fokus pada pengembangan coachee, sikap terbuka, kesadaran diri, dan kemampuan melihat peluang masa depan. Prinsip coaching adalah “kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi.” Kompetensi inti coaching mencakup kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Alur percakapan coaching TIRTA mencakup perencanaan, pemecahan masalah, refleksi, dan kalibrasi. Umpan balik coaching melibatkan pertanyaan reflektif dan penggunaan data yang valid. Supervisi akademik adalah rangkaian aktivitas yang berdampak langsung pada guru dan pembelajaran mereka di kelas. Dua paradigma utama dalam supervisi akademik adalah pengembangan kompetensi berkelanjutan dan optimalisasi potensi individu.
Future (Penerapan):
Setelah menyelesaikan Modul 2.3, saya merasa sangat termotivasi dan siap untuk mengaplikasikan kompetensi inti coaching dalam praktik sehari-hari saya sebagai pendidik. Pertama, saya bertekad untuk menjadi lebih hadir secara penuh dalam setiap percakapan coaching. Saya memahami pentingnya memberikan perhatian sepenuhnya kepada coachee, sehingga mereka merasa didengar dan dihargai. Selanjutnya, saya akan aktif dalam mendengarkan, memberikan ruang bagi coachee untuk berbicara, dan benar-benar mencerna apa yang mereka sampaikan. Saya percaya bahwa mendengarkan aktif adalah kunci untuk memahami kebutuhan dan tantangan coachee.
Selain itu, saya akan mengembangkan kemampuan saya dalam mengajukan pertanyaan yang relevan dan berbobot. Saya akan memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk merangsang pemikiran coachee, membantu mereka menggali solusi, dan mendorong refleksi yang lebih dalam. Saya juga akan memanfaatkan prinsip coaching, seperti kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi, dalam setiap interaksi saya dengan coachee. Saya yakin bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip coaching ini, saya dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berdampak positif bagi coachee.
Selanjutnya, saya akan mengimplementasikan rangkaian supervisi akademik yang mengadopsi paradigma berpikir coaching. Ini melibatkan pendekatan yang berpusat pada pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi individu. Saya akan menggunakan supervisi akademik ini sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya juga berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan coaching saya melalui latihan dan praktek dengan rekan sejawat dan murid. Dengan demikian, saya dapat terus berkembang sebagai pendidik yang efektif dan mendukung pertumbuhan coachee saya.
Refleksi Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Dalam kesempatan ini, saya akan menyampaikan hasil refleksi saya menggunakan model 4F atau 4P, yaitu Facts (Peristiwa), Filling (Perasaan), Findings (Pembelajaran), dan Future (Penerapan).
1. Facts ( Peristiwa )
Sebelum memulai pembelajaran modul 3.1, kami memulainya dengan pre-test pada tanggal 1 Februari 2024. Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan alur MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata), seperti yang sudah biasa dilakukan dalam modul-modul sebelumnya.
Tahap pertama, yaitu “Mulai dari diri”, dimulai dengan menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Kami juga melakukan survei dengan sebuah kasus yang dihadirkan, dan kami menganalisisnya secara mandiri seolah menjadi seorang kepala sekolah.
Tahap kedua adalah “Eksplorasi Konsep”, di mana kami, sebagai peserta, secara mandiri belajar dan mendalami semua materi yang ada dalam modul 3.1 di platform pembelajaran kami (LMS). Di sini, kami mempelajari kasus dilema etika dan bujukan moral. Pada akhir eksplorasi, terdapat forum diskusi di mana kami, para peserta, melakukan analisis terhadap kasus-kasus yang ada di LMS.
Tahap ketiga, yaitu “Ruang Kolaborasi”, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok kami beranggotakan Ibu Yani, Ibu Neti dan Ibu Rosalyn. Pembelajaran dilakukan secara online melalui Gmeet dengan bimbingan fasilitator kami, Ibu Nurfarida Kusumastuti. Sesi pertama selasa tanggal 6 Februari 2024 Kami menganalisis sebuah kasus permasalahan yang diambil dari sekolah Ibu Yani. Kemudian, kami melakukan presentasi tentang hasil diskusi kami keesokan harinya, rabu 7 Februari 2024.
Tahap keempat adalah “Demonstrasi Kontekstual”. Kami diberi tugas untuk mewawancarai 2-3 kepala sekolah mengenai praktik pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika yang terjadi di sekolah mereka. Kami, sebagai peserta, melakukan wawancara dan mendokumentasikannya.
Tahap kelima, “Elaborasi Pemahaman”, dimulai dengan pembuatan pertanyaan. Pada tanggal 13 Februari 2024, kami mengikuti Vcon Elaborasi Pemahaman dengan instruktur untuk lebih memahami pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.
Tahap keenam adalah “Koneksi antar materi”, di mana kami mengaitkan materi pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi-materi pada modul-modul sebelumnya.
Terakhir, “Aksi nyata” mengharuskan kami, peserta, untuk mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah kami.
2. Filling ( Perasaan )
Perasaan yang muncul setelah menyelesaikan modul 3.1 adalah perasaan penuh syukur. Saya merasa sangat beruntung karena modul ini telah membuka cakrawala baru dalam pemahaman saya tentang pengambilan keputusan. Saya merasa tertantang untuk benar-benar mengaplikasikan konsep 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penting dalam pengambilan keputusan, dan 9 langkah yang mendalam dalam mengambil dan menguji keputusan, terutama ketika saya dihadapkan pada dilema etika dalam kehidupan sehari-hari. Saya menyadari bahwa kemampuan mengambil keputusan yang tepat bukan hanya sekadar keterampilan, tetapi juga merupakan pondasi utama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang positif, kondusif, aman, dan nyaman bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan.
3. Finding ( Pembelajaran )
Dari modul 3.1, saya mendapatkan pemahaman penting tentang bagaimana pengambilan keputusan harus didasarkan pada nilai-nilai kebajikan. Saya belajar bahwa sebagai pemimpin, sangat penting untuk selalu berpihak pada kebaikan murid dan memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, saya juga memahami bahwa tahap awal dalam menghadapi permasalahan adalah mengidentifikasi apakah ini merupakan dilema etika atau bujukan moral. Dilema etika adalah situasi di mana dua pilihan dapat dianggap benar, sedangkan bujukan moral adalah situasi di mana satu tindakan dianggap benar dan yang lainnya salah.
Pentingnya memahami perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral sangatlah relevan dalam pengambilan keputusan. Apabila sebuah kasus dapat dipahami sebagai pelanggaran hukum, maka langkah-langkah pengambilan keputusan bisa berhenti karena sudah melalui uji legalitas. Ini adalah pengetahuan berharga yang saya peroleh dari modul ini, yang akan saya terapkan dalam pengambilan keputusan di masa depan, terutama ketika berhadapan dengan situasi yang kompleks dan memerlukan pertimbangan etika yang mendalam.
4. Future ( Penerapan )
Dengan pengetahuan yang saya peroleh dari modul 3.1 ini tentang pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan, saya merasa lebih siap untuk menghadapi situasi dilema etika di masa depan. Saya berniat menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam setiap keputusan yang saya ambil. Selain itu, saya juga berkomitmen untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan ini dengan rekan sejawat saya, sehingga kami semua dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan lebih etis yang selaras dengan nilai-nilai kebajikan universal dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan murid.
Dengan demikian, saya percaya bahwa penerapan prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang saya pelajari dalam modul ini akan memberikan kontribusi positif pada lingkungan sekolah saya dan akan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih kondusif, aman, dan nyaman bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Dengan berfokus pada nilai-nilai kebajikan, kita dapat memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil akan memprioritaskan kesejahteraan dan perkembangan murid, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah kita.
Refleksi Pemimpin dalam pengelolaan Sumber Daya
Modul “Pemimpin dalam pengelolaan Sumber Daya” mulai di pelajari pada 15 Februari 2024 oleh CPG angkatan 9 Program Pendidikan Guru Penggerak. Sebagai pemenuhan tugas pembuatan jurnal refleksi kali ini saya menggunakan model F4 yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway (Facts, Feelings, Findings, Future)
1. Peristiwa (Facts)
Pada tanggal 15 Februari 2024 CGP mempelajari Mulai dari diri sebagai alur awal MERDEKA dikerjakan melalui moda mandiri dengan mengingat kembali faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Pada sesi ini saya diwajibkan untuk memberikan respon terhadap beberapa pertanyaan untuk melihat sejauh mana pengetahuan saya sebagai peserta program tentang materi kali ini.
Pada tanggal 16 Februari 2024 kegiatan berikutnya yakni Eksplorasi konsep memberikan kesempatan pada saya dalam melakukan eksplorasi mandiri dengan menelaah konsep dasar tentang sekolah sebagai ekosistem, Pedekatan Berbasis Kekurangan dan Pendekatan Berbasis Aset, Sejarah singkat Pendekatan Asser-Based Comunnity Development, dan aset-aset dalam sebuah komunitas. Di sesi pembelajaran ini, CGP juga diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan pemantik yang nantinya akan diduskusikan pada forum diskusi.
Pada tanggal 19 Februari 2024 Ruang Kolaborasi modul 3.2 di forum diskusi 1 telah dihadiri oleh CGP . Bersama CGP lain dalam pengelompokkan kelompok serta didampingi Ibu Nurfarida sebagai Fasilitator . CGP diminta untuk dapat mengidentifikasi berbagai sumber daya di daerah untuk sekolahnya dan strategi pemanfaatannya secara efektif. Pemetaan aset di daerah oleh untuk sekolah nantinya akan dipersentasikan kepada kelompok lain pada ruang kolaborasi sesi 2 di modul 3.2.
Pada tanggal 20 Februari 2024 masuk pada Ruang kolaborasi 2 untuk kegiatan presentasi tiap kelompok. Seperti biasa saya masuk dalam kelompok 1 bersama dengan Ibu Rosalyn, Ibu Neti dan Ibu Yani, Pada presentasi ini kelompok saya mengidentifikasi asset dan pemanfaatan di wilayah kota Bandung dengan mengambil contoh sekolahnya Ibu Neti Sari Perwanti.
Pada tanggal 26 Februari 2024 masuk di Elaborasi Pemahaman bersama instruktur dengan adanya elaborasi pemahaman ini semakin kuat pemahaman saya tentang pengelolaan sumber daya.
2. Perasaan (Feelings)
Dalam sesi pembelajaran ini, saya merasa sangat gembira karena saya telah memperoleh pengetahuan baru yang terkait dengan materi dari modul ini. Pengetahuan ini membuka mata saya terhadap potensi sumber daya yang ada di sekitar lingkungan sekolah saya, dan saya merasa termotivasi untuk melakukan pemetaan komprehensif terhadap semua aset tersebut agar dapat dimanfaatkan secara efektif. Selain itu, saya merasa tertantang untuk berbagi pengetahuan ini dengan rekan sejawat di sekolah agar mereka juga dapat mengadopsi pendekatan PKBA (Pengembangan Komunitas Berbasis Aset) dalam upaya menemukan aspek positif dalam kehidupan sekolah dan mengoptimalkannya. Dengan demikian, kami bisa menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih berdaya dan bermanfaat bagi peserta didik.
3. Pembelajaran (Findings)
Sesi pembelajaran Ruang Kolaborasi Sesi 1 pada modul ini telah memberikan banyak pelajaran berharga. Saya belajar untuk fokus pada aspek positif dalam pengambilan keputusan dan perencanaan berdasarkan kekuatan, inspirasi, serta potensi yang ada. Modul ini mendorong perubahan paradigma dari pola pikir yang seringkali bersifat defisit, di mana kita cenderung melihat permasalahan dan kekurangan terlebih dahulu (Deficit Based Thinking). Ini adalah langkah yang sangat positif untuk mengembangkan pendekatan yang lebih proaktif dan membangun pada aset yang ada di sekitar kita. Saya merasa sangat termotivasi untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam praktik pengambilan keputusan dan pengelolaan program di sekolah.
Dalam modul ini, CGP mendalami konsep sekolah sebagai ekosistem, di mana terdapat interaksi antara unsur biotik (unsur yang hidup seperti murid, guru, kepala sekolah, staf/tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orangtua murid/wali, dan masyarakat sekitar sekolah) dan unsur abiotik (unsur yang tidak hidup seperti keuangan, sarana, dan prasarana). Dengan pemahaman ini, CGP menyadari bahwa sekolah bukanlah entitas yang berdiri sendiri, tetapi terhubung erat dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini membuka peluang untuk memanfaatkan semua sumber daya yang ada dalam dan di sekitar sekolah secara lebih efektif dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Pembelajaran di modul ini juga memberi kesempatan untuk dapat membedakan tujuh aset utama yang dimiliki oleh lingkungan sekolah meliputi modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik dan modal agama dan budaya. Dengan mengetahui aset-aset dalam komunitas, maka kita diharapkan memiliki strategi dalam pemanfaatannya sehingga pada akhirnya kita memiliki karakteristik komunitas yang sehat dan resilen.
4. Penerapan (Future)
Dengan pemahaman yang diperoleh dari modul ini, harapannya CGP dapat mengadopsi pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (Asset-Based Community Development/ABCD) dengan mengubah pola pikir (mindset) dan sikap positif sebagai langkah awal. Implementasi modul ini diharapkan mampu membantu sekolah dalam membangun ekosistem yang merangsang pertumbuhan dan perkembangan murid, sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Kita perlu ingat bahwa cara sekolah memandang ekosistemnya sangat memengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan ABCD dapat membuka potensi positif di lingkungan sekolah, menjadikan aset dan sumber daya yang ada sebagai dasar pengembangan pendidikan yang lebih efektif dan inklusif.
Refleksi Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatu, dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.
Fact (Peristiwa)
Modul 3.3, sebagai modul penutup dalam Pendidikan Guru Penggerak, mengikuti pola yang telah ada sebelumnya dengan mengikuti alur MERDEKA, yang dimulai dari tahap “Mulai dari Diri.” Dalam tahap ini, CGP diperkenalkan dengan pertanyaan awal mengenai program yang berdampak pada murid dan hubungannya dengan student agency. Modul kemudian membahas cara menyusun program yang memberikan dampak positif pada murid serta bagaimana meningkatkan student agency dengan mempertimbangkan aspek-aspek penting seperti suara, pilihan, dan kepemilikan. Selain itu, modul juga mengupas isu tentang lingkungan yang mendukung perkembangan kepemimpinan murid dan keterlibatan komunitas dalam memfasilitasi perkembangan ini. Pada forum diskusi eksplorasi konsep, beberapa CGP berbagi pengalaman mereka terkait program-program yang telah dijalankan di sekolah mereka yang berdampak positif pada murid, sementara yang lain memberikan umpan balik dan diskusi terkait hal tersebut.
Perasaan (Feeling)
Minggu kedua dalam PGP angkatan 9 ini menciptakan perasaan campuran yang penuh emosi. Kehadiran modul terakhir dalam program ini memberikan kebahagiaan, meskipun tugas-tugas yang menantang telah diselesaikan dengan sukses dan beberapa tugas yang terlambat akhirnya selesai di waktu yang sesuai. Saya merasa bersyukur karena masih memiliki kesehatan dan kesempatan untuk mencapai tahap ini, yaitu menyelesaikan modul 3.3 dan terlibat dalam eksplorasi konsep serta sesi diskusi di Ruang Kolaborasi. Dengan PGP, saya bertekad untuk menerapkan ilmu yang saya peroleh di sekolah tempat saya mengajar. Kolaborasi dengan rekan guru lainnya diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi siswa -siswi di sekolah kami.
Namun, terdapat juga perasaan sedih dalam minggu terakhir ini, karena kami akan menyelesaikan sesi Ruang Kolaborasi dengan Ibu Nurfarida sebagai Fasilitator. Meskipun kami belum pernah bertemu langsung secara personal, saya merasa sangat terhubung dengan beliau melalui ilmu-ilmu yang telah beliau bagikan, terutama yang terkait dengan materi di LMS. Saya telah menerima banyak bantuan dan dukungan dari beliau selama PGP ini. Selama perjalanan ini, saya dibimbing sama pendamping praktik Ibu Riestha Sugianti yang selalu memberikan pengingat dan bantuan yang sangat berarti bagi saya. Melalui jurnal ini, saya ingin mengungkapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Nurfarida dan Ibu Riestha atas segala kebaikan dan bantuannya.
Pembelajaran (Findings)
Modul 3.3 telah memperluas wawasan saya dalam merencanakan dan merancang kegiatan yang berpotensi memberikan dampak positif pada murid. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kepemimpinan murid atau student agency. Untuk mencapai dampak positif ini, penting untuk mempertimbangkan aspek-aspek seperti suara (voice) dan pilihan (choice) yang dimiliki oleh murid, sehingga mereka dapat merasa memiliki (ownership) terhadap kegiatan tersebut.
Dalam perancangan program yang akan memberikan dampak positif pada murid, tahap awal yang penting adalah melakukan pemetaan aset atau sumber daya yang dimiliki oleh sekolah secara cermat. Dengan langkah ini, program dapat dioptimalkan dengan lebih baik, mengurangi hambatan yang mungkin timbul, dan berkontribusi pada pencapaian visi dan misi sekolah. Pemetaan aset adalah langkah penting dalam memastikan kesuksesan program yang berfokus pada murid.
Penerapan (Future)
Rencana kedepannya yang akan saya lakukan adalah saya akan melakukan kolaborasi dengan rekan dan murid-murid saya di sekolah, berbagi ilmu dan secara bersama-sama untuk merancang program atau kegiatan yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid dengan mendengarkan suara (voice) dan pilihan (choice) mereka. Sehingga program tersebut dapat berdampak bagi murid dan menumbuhkan rasa memiliki pada diri murid terhadap apa yang sudah dirancang secara bersama-sama.